Devildice: Hulubalang Mawar Hitam

Setelah pada 2004 merilis album perdana secara swadaya, In the Arms of the Angels, butuh waktu hingga tujuh tahun bagi Devildice untuk muncul lagi lewat ke publik dan melahirkan Army of the Black Rose.
Devildice? Well, bisa jadi cuma segelintir yang ngeh siapa—atau apa—Devildice. Namun ketika menyebut JRX, the Rock-n-Roll Prince Charming, pasti langsung sumringah dan mengaku akrab, kenal, tahu. Ya, Devildice adalah projek lain dari si penggebuk drum Superman Is Dead. JRX yang juga bertindak sebagai penulis lagu di SID merasa sebagian tembang moody yang diciptakannya tak pas masuk ke karakter trio punk rock tersebut. Sudah begitu, ia lalu mendirikan Culture On Fire pada 1997—dan berevolusi menjadi Devildice pada 2002—untuk mengekspresikan "kisah tak sampai"-nya. Di kuintet yang dibentuknya bersama Kuzz (bas) serta kini disokong Cash (gitar), T.R. (drum) serta Mr. F (trumpet), JRX mengerjakan banyak hal: ya sebagai motor kelompok, ya penulis lagu, ya biduan, ya gitaris. Pula, menurut pengakuan pribadinya, dalam berkesenian, Devildice pekat dipengaruhi oleh film-film gangster masa lalu, kustom kulture dan eksotisme khas punk tropikal.


Jika sebelumnya merilis album melalui jalur indie maka di rangkaian komposisi yang kedua ini Devildice bekerjasama dengan Sony Music Indonesia yang notabene merupakan rumah dimana SID bermukim. Resmi terbit tanggal 9 Juni 2011, Army of the Black Rose terdiri dari sebelas tembang yang bicara nihilisme, bidadari, cinta, hujan, kehidupan dan kesepian. "(The Godfather) Army of the Black Rose", sebagai senandung pembuka berceletoh melalui kacamata kaum nihilis soal dunia nan haus darah, rakus, dan kebenaran cuma manipulasi teori kebencian; dan mereka kesepian. "Land of No Angels" mengusung tentang harapan bagi para remaja broken home agar selalu ingat bahwa cinta ada di mana saja serta belajar memaafkan krusial adanya. Sementara "Never a Saint" dan "Rock & Roll City" adalah lagu bikinan era silam menyoroti sosok manusia yang liar, panas, penuh kejutan, plus paradoksal dari persona malaikat. Pada "Diamonds are Forever" dan "Palace of My Own Disgrace" kontingen musisi asal Kuta ini mengajakserta bintang tamu. Di kreasi yang disebut pertama hadir Sari Nymphea pada vokal, Leo dan Kappe Sinatra pada gitar serta kontra bas. Duet JRX & Sari di sini terilhami dari padu padan Johnny Cash & June Carter, bertutur tentang tak bertemunya dua perasaan yang abadi. Di kreasi kedua Hendra Fish (Telephone) berpartisipasi di departmen gitar. Di sini JRX menyodorkan isu penemuan identitas dan kesadaran baru yang dipahat oleh derasnya hujan dan sambaran petir masa lalu.
Untuk menyimak tembang Devildice selengkapnya, silakan datangi toko kaset/cakram digital terdekat. Ikuti pula terus perkembangan mereka lewat halaman Facebook dan MySpace-nya, cukup dengan mengetik "Devildice".

Komentar