Menjadi Punk Tak Harus Anarkis


Dua pekan yang lalu, Kota Yogyakarta dipadati oleh gerombolan yang menggunakan atribut yang identik dengan kaum punk. Gerombolan tersebut adalah outSIDers ,para fans band idola mereka Superman Is Dead, yang tampil malam itu di Stadion Kridosono, Minggu malam (9/10) lalu. Superman Is Dead yang lebih dulu tampil sebelum J-Rocks membawakan sejumlah hits mereka seperti, ‘Kuat Kita Bersinar’, ‘Kuta Rock City’, ‘Saint of My Life’, ‘Jika Kami Bersama’, dan lainnya.
Penampilan mereka dibuka dengan back-sound lagu ‘The Gost Riders In The Sky’ yang bernuansa ‘Surf Rock’. Seketika muncul Jerinx(Drummer) ke atas panggung dengan mengendarai sepeda lowrider, disusul Eka Rock(Bassist/Backing Vocal), dan Bobby Kool(Gitarist/Vocal) yang naik ke atas stage lengkap dengan peralatan tempur mereka, yaitu instrumen musik yang mereka usung.
Sebelum naik pentas, Tribun Jogja sempat berbincang dengan Jerinx perihal pernyataan resmi dari Kepolisian bahwa pelaku peledakan ATM di Gejayan adalah dari kelompok punk. Hal ini pun membuat Jerinx angkat bicara. Drummer band beraliran punk rock asal Bali ini bicara blak-blakan seputar hubungan punk dan anarkisme. Menurut Jerinx makna anarki sendiri cukup luas, dan tidak harus 100% diterapkan dengan agresivitas. “Anarki tidak harus menjadi vandalis, dan apakah seorang punk harus menjadi anarki?Tidak juga!” tegasnya.
Drummer yang bernama asli Ari Astina ini berujar kalau setiap manusia berpotensi menjadi seorang anarkis. Punk sendiri juga memiliki arti yang luas. Punk tidak harus berideologi yang keras. Di antaranya ada punk yang nihilis, dan hedonis. “Ada juga punk yang positivis, seperti gerakan straight edge yang anti alkohol, dan narkotika, atau yang lebih ke arah sport seperti, skate punk,” imbuhnya.
Menurut Jerinx punk dan anarkisme adalah sama-sama sebuah sub-kultur. Maka tidak menjadi keharusan seorang punk menjadi anarkis, dan begitu juga sebaliknya. “Tidak semua aktivis anarkis mendengarkan musik punk, bahkan mereka mendengarkan jenis musik yang lainnya.” tambah vokalis Devildice ini.
Mengenai posisi SID, Jerinx mengatakan kalau Ia sendiri bingung posisinya berada dimana. Latar belakang mereka yang berasal dari Bali tidak mengarahkan mereka menjadi seorang anarko. Tapi jika ditanya apakah harus melawan, Ia mengatakan bahwa itu merupakan sebuah kepastian. Namun apa yang dilawannya selalu berubah-ubah, “Terkadang melawan bentuk-bentuk fasisme, dan dalam skup yang lebih kecil, kami juga melawan bentuk kapitalisme lokal seperti kasus BIP di Bali.” tegas musisi kelahiran Kuta, 10 Februari 1977 ini.
Bersama teman-temannya di SID, Bobby Kool dan Eka Rock, Jerinx kerap kali melakukan aksi turun ke jalan untuk mengkritik proyek Bali Internasional Park (BIP) di kawasan bukit, Jimbaran. Proyek di atas lahan terlantar seluas 200 hektar ini nantinya akan dijadikan fasilitas Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kerjasama Asia Pasifik (APEC) tahun 2013. (edited by Fakhru outSIDer)

Komentar

Posting Komentar