For I'am Not a Musician, I Have Nothing Against You #2

Kisah-kisah Tak Tercatat,Terekam, dan Terdokumentasikan


“Salah satu kelemahan orang Indonesia adalah dalam pendokumentasian.” Demikian kalimat pertama dalam buku “Blantika Linimasa”, sebuah buku yang berambisi untuk mencatat-rekam-mendokumentasikan perjalanan musik Bali. Sebuah buku yang tadinya saya pikir akan memberikan sebuah gambaran yang (relatif) komprehensif mengenai jejak perjalanan musik(sisi) Bali. Sebuah buku yang tadinya saya pikir akan mendokumentasikan dengan baik-benar-berbinar sebuah perjalanan tak sepi anak-anak muda yang penuh semangat.

Sebelum saya sempat memegang secara fisik buku tersebut, saya mendengar banyak cerita tak puas. Saya pikir, cerita tak puas itu hanya semacam ungkapan kekecewaan karena kisah dimana mereka berada tak terdokumentasikan dalam buku tersebut. Masih biasa saja menurut saya. Sampai beberapa saat kemudian saya masih saja mendengar cerita tidak puas (dari orang yang berbeda) dan sama seperti si manis jembatan ancol, saya penasaran. Saya mulai mencari tahu, siapa teman yang punya buku itu, saya mendapatkannya dengan sedikit pesan dari si empunya buku, “Kamu akan muntah.” Hmm saya tambah penasaran…

Setelah berulang kali bolak-balik membaca dokumentasi tersebut, saya paham kenapa sekian orang yang saya temui kecewa dengan buku tersebut. Ya, terlalu banyak kejadian dan pelaku yang tidak tercatat (dihilangkan?) dari usaha pendokumentasian itu, terutama dari era 90an ketika (what so called) underground movement berjaya. Beberapa teman meminta saya menuliskan beberapa hal yang terlupakan (dilupakan?) dalam usaha pendokumentasian tersebut. Tapi saya terlalu malas untuk bergegas salto/koprol/kayang yang nantinya hanya akan membuat saya terlihat seperti atlet PON yang tidak dapat medali. Saya juga terlalu malas untuk silang argumentasi, adu mulut, baku bentak hanya untuk hal semacam ini, capai saya. Saya lebih suka bersantai dan bersenang-senang, berbicara pelan tanpa harus saling bentak dalam suasana yang akrab dan hangat (meskipun tak sehangat pantat panci diatas kompor, tidak apa-apa).

Akhirnya, saya sms-tilpun kesana kemari, memungut yang bisa dipungut, membaca yang bisa dibaca, mendengar yang bisa didengar, memerhatikan yang bisa diperhatikan, dan seterusnya. Belum sempat, saya menulis apa yang saya pungut-dengar-perhatikan saya mendapat panggilan kerja di sebuah kantor. Sebulan saya bekerja, akhirnya saya putuskan untuk berhenti kerja dan melanjutkan kembali apa sudah saya pungut-dengar-perhatikan. Bukan, apa yang saya lakukan samasekali bukan tindakan heroik, saya berhenti bekerja bukan hanya karena ingin menuliskan hal ini. Ada banyak alasan yang sangat tidak heroik.

Sebagaimana pengantar Blantika Linimasa, saya juga tidak akan merunduk-runduk minta maaf (karena saya tidak merasa melakukan kesalahan apapun), saya juga tidak merasa telah bekerja keras hanya karena menuliskan hal ini (ini cuma hal biasa, yang bisa dilakukan disela kesibukan menghidupi hidup), jika hal ini memang pantas dihargai, saya ucapkan terimakasih, jika memang tidak pantas dihargai, saya ucapkan terimakasih juga, santai bung, santai…

Itu dokumentasimu
Ini dokumentasi kami...


OUTLINE KISAH TAK SENYAP

Tahun 90an, seingat saya waktu itu saya masih di SMA, kakak saya yang konstan mendengarkan thrash metal semenjak saya SD mulai beralih mendengarkan varian musik yang makin lama makin kencang. Napalm Death adalah soundtrack saya berangkat sekolah waktu itu dan setiap malam kuping saya hampir selalu diganggu As Sahar, Metallica, atau Sil Khanaz. Ya, saya besar mendengarkan musik-musik semacam itu, entahlah apa saya harus berterima kasih atau apa. Sampai pada suatu pagi, saya melihat sebuah kaset dengan sampul berwarna kuning dengan gambar dinosaurus memakai sombrero. Nama band itu Ramones. Band apa ini? Saya mengingat-ingat, dan saya samasekali tidak menemukan ingatan tentang Ramones. Saya coba putar kaset itu, saya langsung jatuh cinta. Ini band keren! Pikir saya. Semenjak itu, soundtrack saya adalah Ramones. Album Adios Amigos satu-satunya rekaman Ramones yang saya dengar waktu itu, diluar itu saya “terpaksa” mendengarkan band-band keluaran Valentine Sound Production dan/atau Nebiula Production. Beberapa saat kemudian, entah bagaimana ceritanya, sepulang sekolah saya menemukan Green Day album Dookie di rak kaset. Saya coba putar, tapi tidak sebagus Ramones, saya pikir. Beberapa saat kemudian kaset itu terlupakan, teman kakak saya datang membawa album Ramones Brain Drain. Saya ikut mencuri dengar.

Di sekolah, teman-teman saya lebih banyak mendengarkan Green Day. Band tersebut sangat terkenal waktu itu. Semua band anak SMA meng-cover band tersebut, ada yang bagus ada yang sekedar cover. Waktu itu, acara musik yang paling besar dan terkenal adalah Sunday Hot Music, yang setiap minggu menampilkan band-band lokal Denpasar. Yang merajai panggung SHM waktu itu adalah Silhouette, band cover version Metallica; Kawitana (kalau tidak salah ini adalah band speed metal); Maiden Lais, band cover version Iron Maiden. Sewaktu reggae naik daun, yang merajai SHM adalah Double T. Band punk hanya sedikit terdengar waktu itu, dari sedikit itu ada Superman Is Dead dan Rest In Punk. Band metal yang banyak terdengar waktu itu Phobia dan Eternal Madness.

Setelah beberapa lama, SMH tak terdengar lagi kabarnya. Panggung bergeser ke Gor Lila Bhuana. Total Uyut pertama kali diadakan di Gor ini dan melahirkan band-band bagus seperti Criminal Asshole (band yang sangat sadar fashion dan dalam perkembangannya menjadi band political-street-punk pertama yang berbahasa Bali dan tetap dengan fashion yang all out), Total Idiot, Pokoke. Bersamaan dengan itu, Fakultas Sastra Udayana menjadi fakultas pertama dari semua universitas di Bali yang menjadi fakultas paling hidup. Ritme kehidupan mahasiswa sastra waktu itu, pagi kuliah, sore nongkrong membicarakan banyak hal dari gosip sampai ngobrol tentang lirik Rage Against The Machine. Dari tempat inilah fanzine musik pertama, Tikus Got, lahir dan hadir konstan beberapa edisi sebelum akhirnya menghilang. Fakultas sastra juga sering mengadakan acara musik yang mengundang band-band terebut diatas. Sampai kemudian ada saat dimana kampus tidak boleh digunakan untuk menggelar acara musik karena band-band yang diundang tidak jarang terlibat perkelahian dan dengan alasan polusi suara. Mahasiswa-mahasiswa itu tidak kehilangan akal dan menyiasatinya dengan Sastra Music Unplugged, acara unplugged pertama untuk band-band bawah tanah Denpasar.

Gor Lila Buana masih hidup sampai beberapa tahun, dan sempat melahirkan lebih banyak lagi band-band keren seperti Struggle Unity, Outside Fire, Ripper Clown, Orgasmatron, Reject, Rude Devil, dan banyak lagi. Bukan hanya band, literatur-literatur juga mulai tumbuh. Setelah Tikus Got menghilang, muncul Satu Zine yang terbit hanya sampai 3 edisi. Pasca Satu Zine, Straighthate Newsletter yang terbit hanya 2 edisi sempat membuat “keributan” dengan tulisan Punk is Dead yang banyak menjadi pembicaraan di scene punk Denpasar-Tabanan. Selain zine dan/atau newsletter phamplet-phamplet politis a la punk juga banyak menyebar pada masa itu. Di luar Denpasar; Tabanan, Sading, dan Tanjung Benoa adalah lokasi-lokasi mayoritas dimana scene musik tumbuh-berkembang-dan tak pernah mati. Komunitas musik, juga sangat bergairah saat itu, diawali oleh 19-21, kemudian berturut-turut muncul Underdog State, Mendung, HW, GS, Kesiman, dan Padang Sambian Rebellion Squadra dengan Biang Keroknya yang masih tetap bertahan sampai sekarang dan masih kerap menggelar acara musik.

Hari ini, pasca terkenalnya Superman is Dead, selain 19-21 dan Underdog State, Padang Sambian Rebellion Squadra masih bergerak dengan kekuatan penuh. Tidak ada kata pingsan apalagi mati; lahir-tumbuh-berkembang-liar-tanpa tuan-tak akan pernah mati. Setelah SiD merilis case 15, masih ada Kompilasi Underdog State (Various band dari Denpasar-Tabanan), Triple Six (Insistent Buchery of Massacre), Rude Devils (Self Title), Kompilasi For The Truth (Malang-Denpasar Hardcore), Criminal Asshole (lupa judul albumnya), Pokoke (Revolution), Reject (Denpasar Drunk Punx), dan masih banyak lagi band-band yang tidak layak dilupakan hanya karena mereka bergerak dibawah tanah. Mereka membuat setapak yang membuat wajah Youth Culture Denpasar (dan Tabanan) menjadi seperti sekarang.

Yang menarik dari scene Denpasar dan Tabanan adalah pengaruh yang melekat pada tubuhnya. Jika scene musik “atas” mendapat banyak pengaruh dari Bandung dan/atau Jakarta, maka scene musik “bawah” mendapatkan banyak pengaruhnya dari Malang dan Surabaya yang menurut saya lebih menonjolkan kultur jalanan dan egalitarian. Diluar Nuclear Blast dan Earache, tidak bisa dilupakan juga peranan label rekaman Malaysia dan/atau Singapura (VSP dan Nebiula) yang banyak memberikan sumbangan pada awal-awal tumbuh-kembang scene Denpasar. Peredaran kaset bajakan dari Lost and Found, Epitaph, dan entah apa lagi yang terkadang sudah tak terbaca lagi karena saking seringnya berpindah tangan juga memiliki banyak peran. Jejak yang paling jelas terlihat dari scene punk Denpasar-Tabanan adalah pengaruh scene Inggris yang lebih kasar daripada Amerika yang lebih sopan. Lihat (atau dengarkan), misalnya rekaman Criminal Asshole (Pejah Ing Ranang Gana/2005), rekaman ini berisi demo antara tahun 97-98, berbahasa Bali, dengan nuansa anarkistik secara sound dan lirik. Demikian penggalan lirik “Amah Tai”: “Ci pejabat ulian nyangut, bungut gebuh liun peta, demokrasi mati ngasen, sing ada apa cicing naskleng, amah tai…amah tai”

Kekuatan band-band jenis ini jelas bukan pada penjualan album yang aduhai banyaknya. Band-band ini (Criminal Asshole, misalnya), tidak terikat pada pasar melainkan membentuk sendiri pasarnya meski terbatas. Album terbaru mereka, Rain Chaos misalnya hanya dicetak terbatas 30 cd, tanpa dukungan media atau publikasi yang cukup. Tanpa itupun mereka tetap bertahan “menghajar jalanan”. Keberadaan mereka selama belasan tahun yang terekam di sekian banyak kepala bukan hanya karena album-album yang terjual dalam jumlah yang fantastis, melainkan karena konsistensi mereka dalam scene ini. Acara-acara musik yang digelar pun masih tetap berlanjut sampai sekarang meski tidak dalam skala yang besar dengan sistem patungan, dimana tiap band dikenai biaya sekian rupiah untuk sewa tempat, sound, minus sponsor; hal semacam ini yang tidak banyak mendapat perhatian. . . (text and photo courtesy of warcd)


taken from : Magic Ink Tattoo Magazine

Komentar