"Lagu Dansa" Sebuah Persembahan Baru dari Deredia

"Lagu Dansa" Sebuah Persembahan Baru dari Deredia
Deredia. foto: instagram/derediamusic
Ajak kumpul kaum muda menikmati sore yang cerah di pesta rumahan.

Dekade 1950-an bisa dibilang era yang terasa istimewa. Gimana nggak istimewa, saat itu dunia sedang bersuka ria. Perang Dunia II yang merusak separuh bumi telah usai. Indonesia yang saat itu menjadi  salah satu medan perang sedang menyongsong sinar matahari baru.

Identitas kebudayaan nasional berusaha dibentuk oleh pendiri bangsa sebagai konsekuensi logis dari bangsa yang merdeka. Namun demikian, pengaruh produk budaya populer kolonialisme tak semerta-merta luntur. Keberadaan ruang dansa dan pasar malam, misalnya, masih membekas karena memunculkan estetika dan keriaan baru. Beragam corak musik populer, yang berkembang di Amerika Serikat dan negara-negara Eropa berhasil diwariskan pada pemusik Indonesia.

Kesan itulah yang membuat Yosua Simanjuntak (gitar), Louise Monique Sitanggang (vokal), Papa Ical (bas), Raynhard Lewis Pasaribu (piano), dan Aryo Wicaksono (drum) membentuk grup Deredia yang terinspirasi oleh budaya di era 1950-an.

Budaya pop/swing/rocknroll di era 1950-an itu terpatri kuat di benak lima sekawan ini. Terbukti, album perdana bertajuk Bunga & Miles yang dirilis pada tahun 2016 banyak memiliki nuansa musik di era 50 hingga 60-an. Dua tahun kemudian, Deredia datang kembali dengan karya teranyarnya berupa single berjudul Lagu Dansa.

Lirik lagu dalam lagu ini  menyiratkan keriaan pesta dansa rumahan, seperti yang terjadi pada zaman itu. Dalam lagunya mereka menyebutkan: “Tuan dan Nona bersua bersukaria bersama. Mereka berdansa ke kiri dan ke kanan.”

Irama pop juga terasa di Lagu Dansa, seperti mengajak para kaum muda untuk berpesta bersama. Deredia juga memasukkan beberapa cemilan khas Nusantara pada lirik single Lagu Dansa, antara lain ada dodol, bakpia, onde-onde, lumpia, dan tak lupa kopi.

"Lagu Dansa" ini menceritakan suasana pesta dansa di rumah-rumah. Dalam bayangan saya, pesta ini adalah ajang kumpul kaum muda menikmati sore yang cerah,” kata Louise.

Sebagai gambaran, suasana pesta rumahan tersebut tersaji baik dalam film Tiga Dara (1957) besutan Usmar Ismail.

Single Lagu Dansa kini juga tersedia dalam format video klip yang sudah bisa disaksikan melalui kanal Youtube Deredia. Dengan dirilisnya single “Lagu Dansa” ini, Deredia juga bersiap untuk melepas album penuh kedua dan telah memilih sembilan dari lima belas lagu yang dihasilkan dari proses jamming.

“Kami membuat lagu selalu lewat proses jamming, tidak direncanakan secara spesifik akan seperti apa. Dalam proses workshop itu, kami menghasilkan lima belas lagu. Ternyata ada sembilan lagu yang punya benang merah sama,” tukas Yosua.

Nah, sebelum perilisan album kedua. Simak dulu aja yuk lagu dan video musik Lagu Dansa di bawah ini:

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to ""Lagu Dansa" Sebuah Persembahan Baru dari Deredia"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel